Jumat, 19 Oktober 2007
Persembahan Persepuluhan
Dua Pendapat. Secara umum ada dua pendapat mengenai persembahan persepuluhan ini. Kedua pendapat tersebut sama-sama bertolak dari Alkitab. Pertama, pendapat bahwa persembahan persepuluhan itu sifatnya wajib dilakukan oleh orang Kristen. Itu adalah jumlah minimal yang harus diberikan kepada Tuhan; kalau kita sampai tidak memberikan persembahan persepuluhan maka itu berarti mencuri milik Tuhan. Dasarnya: 1) Abraham memberikan sepersepuluh dari penghasilannya kepada Melkisedek (Kejadian 14:17-20). 2) Yakub menjanjikan kepada Allah sepersepuluh dari yang dimilikinya (Kejadian 28:20-22). 3) Musa menetapkan persembahan persepuluhan sebagai hukum yang harus ditaati (Imamat 27:30-32, bdk. Maleakhi 3:8).
Kedua, pendapat bahwa persembahan persepuluhan bukan hal wajib dilakukan. Dasarnya: persembahan persepuluhan adalah hukum produk Perjanjian Lama, segala hukum dalam Perjanjian Lama sudah digenapi oleh Yesus Kristus. Jadi tidak harus lagi. Dalam Perjanjian Baru pun tidak diharuskan. Tidak ada ayat yang mengharuskan itu.
Latar Belakang Alkitab. Kata persepuluhan (Ibrani: maaser, Yunani: dekate) sebetulnya bukan istilah keagama an. Itu adalah istilah matematika. Dalam dunia kuno angka 10 adalah dasar untuk sistem perhitungan (angka dasar untuk mengukur, juga merupakan simbol penyelesai an). Agama-agama kuno di Timur Tengah memberi persembahan kepada ilah-ilahnya dengan memakai perhitungan sepersepuluh. Dalam agama-agama kuno angka 10 adalah lambang keseluruhan atau kesempurnaan. Bila seseorang telah memberi sepersepuluh kepada ilahnya menunjukkan penyerahan yang menyeluruh. Jadi, bahwa ide persembahan persepuluhanan terdapat dalam agama-agama kuno di Timur Tengah, bukan sesuatu yang baru pada zaman Abraham.
Pada zaman Bapa Leluhur (pathriakha; zaman Abaraham, Yakub), persembahan persepuluhan bersifat sukarela; bukan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah. Baik Abraham yang memberikan sepersepuluh dari penghasilannya kepada Melkisedek, dan Yakub yang menjanjikan sepersepuluh dari yang dimilikinya kepada Allah, tidak melakukakannya karena diwajibkan, tetapi karena spontan, atas dasar keinginan mereka sendiri.
Pada zaman Musa (Israel sudah menjadi sebuah bangsa yang besar), persembahan persepuluhan wajib hukumnya. Semacam pajak. Israel adalah negara theokrasi (dari kata theos dan kratos); Tuhanlah yang menjadi kepala pemerintahan. Melaksanakan kewajiban negara sama dengan melaksanakan kewajiban kepada Tuhan sendiri). Pada zaman itu persembahan persepuluhan biasanya digunakan untuk : 1). Biaya hidup orang Lewi (suku di Israel yang dikhususkan sebagai imam, Ulangan 14:28-29), 2). Pesta nasional (Ulangan 12:17-18), 3). Untuk menolong orang miskin (Ulangan 14:28-29)
Pada zaman Perjanjian Baru persembahan persepuluhan dalam arti kedua yang berlaku. Bangsa Yahudi diwajibkan memberikan sepersepuluh dari penghasilannya. Hal ini diterapkan oleh para pemimpin agama Yahudi. Bahkan persembahan persepu luhan ini kemudian menjadi ukuran “kesalehan” seseorang. Sikap Tuhan YesusTuhan Yesus sangat menghargai peraturan yang berlaku. Tetapi Tuhan Yesus menen tang sikap yang memutlakkan peraturan. Sehingga olah peraturan itu malah menjadi tujuan, dan malah bukannya mendatangkan kesejahteraan tapi menjadi tekanan bagi manusia. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan, “Hukum ada untuk manusia, bukan manusia untuk hukum”.
Terlebih kalau peraturan, apalagi peraturan keagamaan, justru menjadi alat untuk membenarkan diri dan menghakimi orang lain, seperti orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada zaman Perjanjian Baru. Lihat, misalnya, sikap Tuhan Yesus terhadap hari Sabat. Dalam hal persembahan persepuluhan Tuhan Yesus tidak menekankan jumlah, tapi pada sikap batin atau motivasi yang mendasari persembahan itu (persembahan bertolak dari hati yang bersyukur, persembahan untuk memuliakan Tuhan, persembahan harus dengan sukarela dan jangan dengan sedih hati atau karena terpaksa). Persembahan sebesar apa pun tanpa dilandasi motivasi itu adalah “nol” di mata Tuhan.
Tuhan sangat menghargai dan memuji janda miskin yang memberi dua peser (Markus 12:42-44) – peser adalah mata utang Israel yang paling kecil. Tuhan Yesus juga sangat menghargai niat baik Zakheus yang hendak memberikan separuh dari seluruh kekayaannya.
Kesimpulan. Dari apa yang sudah dipaparkan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa persembahan persepuluhan bukan masalah jumlahnya; kalau memang tidak bisa memberi sepersepuluh; mungkin seperduapuluh, atau sepersepuluh kurang, ya tidak apa-apa. Jangan merasa kecil hati, atau merasa bersalah. Tapi kalau misalnya dapat memberi lebih, berilah lebih. Jangan mengecil-ngecilkan berkat Tuhan yang diterima. Ingat perumpamaan tentang talenta. Tuhan tidak menuntut lebih pada yang diberi sedikit, tapi kepada yang diberi banyak, berilah banyak juga.
Tentang kemana persembahan diberikan; tidak selalu harus ke gereja, bisa ke lembaga sosial, bisa untuk membantu orang miskin. Tapi toh sebagai warga sebuah gereja, kita juga punya tanggung jawab dalam hal berlangsung tidaknya aktivitas dan pela yanan gereja. Persembahan yang diberikan melalui gereja, dikelola oleh Majelis Jemaat untuk kelangsungan aktivitas dan pelayanan gereja.
Penutup. Kalau bukan jumlah yang sepersepuluh, pertanyaannya, lalu buat apa dong masih ada yang namanya persembahan persepuluhan? Ada nilai atau pesan lain dibalik ungkap an persembahan persepuluhan:
1. Memberi persembahan dengan setia; jadi tidak semau-maunya, tergantung mood; kadang memberi kadang tidak, kadang banyak kadang sedikit.
2. Memberi persembahan pada Tuhan harus menjadi yang utama dan pertama; sisih kan bukan sisakan. Jadi bukan dipakai untuk segala sesuatu dulu, baru sisanya untuk Tuhan. Tetapi sisihkan dulu untuk Tuhan, sesuai iman kita tentunya, lalu lainnya kita pakai untuk kebutuhan kita.
3. Memberi persembahan kepada Tuhan dengan kesungguhan hati.
Jumat, 24 Agustus 2007
Haruskah Orang Kristen Memberi Perpuluhan?
Jawabannya yang pasti bukan 'ya', tetapi bukan juga 'tidak'. Karena dikotomi ya dan tidak akan menjerumuskan kita kepada pemahaman yang malah salah kaprah terhadap konsep ini. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita minimal 3 hal berikut
(1) Persembahan perpuluhan menjadi salah satu ukuran ketaatan kita kepada Allah, bagian dari ibadah kita kepada Allah. Memberi perpuluhan adalah sebuah bentuk pengakuan bahwa Ia Allah yang berdaulat yang memelihara hidup kita yang dapat kita andalkan dan sandari. Berita Maleakhi 3:6-12 diberitakan untuk menegur umat Israel yang tidak taat kepada Allah, dalam area memberi perpuluhan (disamping area lain yang ada dalam pasal ke-1 sampai ke-3). Jika bagian ini dikotbahkan agar penerimaan kas gereja naik, kita salah mengerti tujuan utama bagian ini. Kegagalan memberi perpuluhan hanyalah sebuah studi kasus, sebuah contoh riil dari ketidaktaatan umat Israel. Dalam hal tersebut, mereka perlu bertobat.
(2) Memberi dengan standar mutlak 10% berpotensi membuat orang percaya sombong rohani dan legalistik seperti orang Farisi (Mat 23:23). Point Yesus saat menegur orang Farisi adalah bahwa jangan kita memakai perpuluhan sebagai tingkah lagu agama (alasan rohani) agar tidak usah memperhatikan orang lain, khususnya orang-orang yang Tuhan kirimkan kepada kita untuk kita perhatikan. Adalah salah jika kita berpikir bahwa 10% dari pendapatanku adalah milik Tuhan, sisanya 90% milik-ku untuk aku pakai sekehendak hatiku. Padahal seluruhnya 100% adalah milik Allah yang ia titipkan pada kita. Jangan lupa kemampuan untuk kita bekerja dan mendapat gaji, itupun dari Allah.
(3) Perjanjian Baru (PB) tidak mengajarkan Perpuluhan, namun prinsip tentang memberi diajarkan dengan eksplisit dalam beberapa bagian oleh Rasul Paulus. Inti dari seluruh ajaran PB adalah bahwa:
(a) Motivasi kita memberi persembahan adalah untuk berkat rohani dari Allah, agar kita semakin berbuah memuliakanNya (2 Kor 9:8-15)
(b) Ukuran kita memberi persembahan adalah berkat materi dari Allah, agar kita semakin Allah memberkati kita dengan kekayaan materi, semakin besar kapasitas memberi dan menjadi saluran berkat.
Tabel berikut menjadi ringkasan dari seluruh aspek persembahan dalam Perjanjian Baru yang menggenapi ajaran perpuluhan dalam Perjanjian Lama. Saya menyebutnya sebagai Prinsip Persembahan 3S dan 3P
1. Sistematis
Memberi secara teratur, secara mingguan, dua-mingguan, bulanan, dll., tapi bukan secara dadakan
1 Kor 16:1
2. Sukarela
Memberi dengan sukarela, bukan karena rasa bersalah atau rasa terpaksa karena disuruh.
2 Kor 8:2-3; Fil 4:18
3. Sukacita
Memberi dengan hati yang bersukacita karena kasih kepada Allah
2 Kor 9:7
4. Pelayanan
Memberi untuk dapat menjadi saluran berkat Allah, mengasihi orang lain yang membutuhkan
2 Kor 8:9; 9:6
5. Proporsional
Memberi sesuai dengan berkat materi yang Allah tambahkan dalam hidup Anda.
1 Kor 16:2; 2 Kor 8:2-3
6. Pengorbanan
Memberi dengan perngorbanan, bukan ala kadarnya, agar lebih berani bergantung pada Allah, bukan uang.
2 Kor 8:2-3; Fil 4:17-18
Memberi persembahan adalah bagian dari disiplin rohani kita. Mari kita taat menjalankan Prinsip 3S-3P ini. Dan setiap kali kita memberi persembahan kepada Tuhan, kita mengingat dalam doa kita:
"Ya Tuhan, uang ini aku persembahkan bukan sebagai upeti untuk mendapat kasih sayangMu, bukan untuk menyogokMu untuk lebih sayang padaku, bukan untuk menutupi rasa bersalahku akibat perbuatan dosa yang aku lakukan, bukan untuk menciptakan 'good feeling' karena aku telah berjasa bagi gerejaMu, bukan untuk jaga image agar lebih kelihatan rohani, dan bukan sekedar rutinitas agama yang kosong. Uang ini aku persembahkan sebagai pernyataan imanku bahwa Engkaulah Allah yang berdaulat yang telah, sedang, dan akan terus menopang hidupku, bahwa hidupku tidak bergantung pada benda mati ini tetapi hanya padaMu. Biarlah melalui persembahanku, hidupku menyatakan dihadapanMu bahwa aku tidak menyembah berhala Mamon, tetapi menyembah Engkau Allah yang hidup."
Selasa, 13 Maret 2007
Kapan Harus Bersyukur?
Bersyukur, ketika naik kelas. Bersyukur, karena mendapat makanan. Bersyukur, karena bisa jalan-jalan. Bersyukur, karena baju baru, mainan baru. Bersyukur, karena mempunyai teman yang baik
Ketika usia beranjak dewasa pola bersyukurpun tidak berubah. Bersyukur, karena naik pangkat atau dapat promosi. Bersyukur, karena makan enak. Bersyukur, karena bisa libur ke luar negeri. Bersyukur, karena rumah baru dan mobil baru.
Bersyukur macam itu biasa. Yang tidak biasa adalah bersyukur untuk semua hal. Juga untuk hal yang tampaknya negatif atau tidak menyenangkan. Karena kegagalan, karena makanan yang tidak enak, karena harus bekerja, karena harapan yang tidak terwujud, karena dihianati, karena disepelekan, karena…apapun juga. Senantiasa bersyukur. Bersyukur karena hal yang sudah terjadi itu biasa. Bersyukur karena hal yang belum terjadi itu luar biasa.
Awali pagi Anda dengan mensyukuri hari yang akan Anda lewati, pekerjaan yang akan Anda lakukan. Presentasi yang harus Anda siapkan. Perjumpaan dengan orang-orang. Percaya deh. Ketika Anda mengubah pola Anda dalam bersyukur. Hidup Anda sudah dan sedang berubah. Buktikan.
Rabu, 04 Oktober 2006
Memberi dari Kekurangan
Bagi beberapa orang yang berkecukupanpun bisa tidak sejahtera saat memberi, terlebih lagi bagi yang berkehidupan sederhana dan dibawahnya. Bahkan ada anggapan permintaan persembahan tambahan sebagai sarana mengambil keuntungan bagi gereja meskipun pada dasarnya keengganan memberi persembahanlah yang menjadi alasan utama. Tuhan tidak pernah memaksa seseorang untuk memberi persembahan ini, persembahan dilakukan secara sukarela dan bila tidak memberi juga tidak menjadi masalah. Tuhan tahu setiap orang pernah memberi persembahan meskipun tidak selalu. Tuhan juga tahu faktor keuangan yang membuat seseorang tidak memberi. Jadi bila tidak dapat memberi kenapa harus marah atau menyalahkan gereja atau pengurus atau Tuhan!
Tuhan melihat hati saat seseorang memberi persembahan dan jumlah merupakan masalah berikutnya. Jangan sampai tidak memberi persembahan tambahan dijadikan alasan tidak mengikuti kebaktian mingguan. Allah mengharapkan pujian dari hati kita terdalam kepadaNya serta kerinduan hati untuk mendengar firmanNya setiap minggu lebih dari memberikan persembahan tambahan.
Tahukah saudara ada seorang yang belajar memberi persembahan ini dengan setia dan dikemudian hari ia mendapat julukan “si Murah Hati “. Bila saudara ingin belajar menjadi orang yang murah hati, belajarlah dari Erik.
Erik diberi cap orang yang paling murah hati . Kehidupannya sederhana tetapi Erik selalu memberi bantuan bila ada sesiapa mengalami kemalangan. Dia juga termasuk salah satu dari jemaat yang selalu memberi persembahan tambahan di gereja. Banyak yang menganggap Erik seorang yang sangat berkecukupan meskipun tidak demikian kenyatannya.
Semua orang sepakat, saat ada sumbangan baik untuk gereja, orang sakit, kematian atau kecelakaan apa saja, ia pasti memberi jumlah yang bagi kebanyakan orang didaerahnya cukup banyak. Teman-temannya pernah melihatnya memberi sumbangan kebakaran yang diminta secara spontan saat ia naik kenderaan umum. Cukup banyak dalam arti bisa untuk makan dua atau tiga kali dalam satu hari dan selalu lebih besar dari yang diberikan teman-temannya.
Raut wajah tidak menunjukkan kekesalan atau rasa marah saat memberi. Rautnya wajar-wajar saja ketika mengeluarkan dompet dan memberikan uang sumbangan. Semuanya dilakukan secara alami tanpa paksaan. Inilah alasan mengapa ia diberi julukan banyak duit , murah hati dan sekaligus membuat teman-temannya terheran-heran terhadap tindakannya. Nama Erik tidak pernah tertulis sebagai pemberi sumbangan kecuali teman-temannya membuat daftar nama sumbangan kolektif.
Pernah teman-temannya mentertawakannya. Ada tiga kasus kematian orang tua karyawan dan semua karyawan diminta menyumbang seribu rupiah perkepala. Pengumpul dana meminta sumbangan kepadanya, ia mengeluarkan tiga lembar uang sepuluh ribuan dan berkata,” Ini uang sumbangan dukacita untuk teman-teman kita ”, secara spontan disertai wajah polos. Semua rekan-rekannya terkejut dan sebagian lagi tertawa. Erik bingung dan berkata , “ Ada yang salah?” . Temannya menjelaskan hanya dipungut tiga ribu rupiah saja dan Erik kembali berkata dengan polos ,”Kalau sepuluh ribu rupiah saya beri ngak salah, kan?” . Kembali temannya tersenyum dan menerima uang itu.
Satu hari seorang temannya melihat ia memberi sumbangan kemudian menyindirnya dengan mengatakan,”Kamu bisa menyumbang karena banyak uang sedangkan kami makan saja tidak cukup!”. Erik tertegun sejenak dan kemudian berkata,” Untuk memberi sumbangan yang diperlukan hati yang rela memberi”.
Kemudian Erik bercerita awal ia belajar memberi. Enam tahun lalu Erik selalu marah ketika kebaktian mingguan sedang berlangsung. Perasaan was-was muncul dikarenakan permintaan persembahan tambahan . Ia menyalahkan Tuhan dan pendeta setiap kali persembahan dijalankan. Keuangannya benar-benar minim. Dengan gaji UMR masih mampu membayar persepuluhan dan persembahan meskipun harus berhemat. Tetapi untuk persembahan tambahan ia tidak mempunyai uang lagi.
Setiap minggu kemarahan memuncak. “Akan adakah persembahan tambahan lagi?”, jerit batinnya selama kebaktian. Emosi telah mengalahkan kerinduan hati untuk memuji dan mendengar firman-Nya. Emosi semakin memuncak dari hari ke hari dan ia harus mengatasi masalah ini. Akhirnya Erik memutuskan untuk menyisihkan uang dua ribu rupiah sampai dua ribu limaratus rupiah perbulan. Erik akan memberi sumbangan lima ratus rupiah perminggu bila ada persembahan tambahan.
Lima ratus merupakan jumlah yang sangat kecil. Bila digabung uang persembahan mingguan ditambah persembahan tambahan mingguan, jumlahnya masih tetap kecil bila dibandingkan dengan minuman dan kue gratis yang diberikan gereja pada semua jemaat termasuk Erik saat ramah tamah selesai ibadah gereja. Tetapi Erik telah bertekad memberinya pada Tuhan. Demikianlah ia memberi persembahan tambahan ke gereja bila diminta . Ada perasaan malu mengingat jumlah uang masih lebih kecil dari pada makanan dan minuman yang diberikan gereja baginya tetapi disaat bersamaan kemarahan tidak ada lagi saat kebaktian mingguan. Ia tidak marah kepada gereja, pendeta terlebih kepada Tuhan dan mulai menikmati kebaktian mingguan.
Persembahan tambahan tidak diminta setiap minggu , ada sisa uang persembahan tambahan setiap akhir bulan. Jumlahnya semakin bertambah di setiap akhir bulan berikutnya dikarenakan Erik menambah sebesar dua ribu sampau dua ribu lima ratus rupiah setiap awal bulan. Erik bingung mau dikemanakan uang ini.
Sisa uang akan dipakai untuk belanja demikianlah rencananya. Tetapi Erik menyadari suatu hari nanti ia tidak mau memberi persembahan tambahan lagi atau dengan kata lain mulai berharap agar permintaan sumbangan tambahan digereja dikurangi atau tidak ada lagi. Sejujurnya Ia bukan orang yang jujur menghadapi masalah ini. Orang lain dapat dengan jujur membelanjakan sisa uang ini dan tetap tidak keberatan memberi persembahan tambahan digereja. Tetapi Erik adalah Erik dan bukan orang lain . Melalui pergumulan Erik memutuskan uang sisa akan diberikan bagi yang memerlukan. Ia mulai memberi sumbangan kepada orang yang meninggal, orang yang sakit atau siapa saja yang membutuhkan. Itulah awal Erik memberi sumbangan kepada siapa yang memerlukannya. Semakin hari pekerjaan Erik semakin baik dan persembahan tambahan yang di sisihkan setiap bulan semakin besar, juga uang yang diberikan untuk persembahan dan menolong orang semakin besar.
Erik orang yang murah hati dan mau memberi disaat hidupnya masih kekurangan . Ia selalu mengatakan,”Yang terutama harus dilakukan saat memberi adalah hati yang tulus”. Itulah Erik.
Kamis, 15 Januari 2004
Berterima Kasih kepada Sesama
* Menyatakan secara langsung. Ucapkan terima kasih atas kebaikan yang orang lakukan bagi Anda. Sedapat mungkin, sebutkan secara spesifik "nilai" perbuatan tersebut, misalnya: "Terima kasih telah mengingatkan aku untuk menelepon si A. Kau benar-benar penuh perhatian."
* Menulis surat. Tulislah surat atau kartu ucapan terima kasih. Isinya tidak perlu bertele-tele, namun langsung pada sasaran. Kirimkan sesegera mungkin.
* Menceritakannya pada orang lain. Daripada menggosipkan keburukan orang, ceritakanlah perbuatan baik yang telah dilakukan seseorang pada Anda. Ungkapkan berkat yang Anda alami karena perbuatan tersebut.
* Memberikan hadiah. Pilihlah hadiah yang patut bagi orang tersebut. Pertimbangan utamanya bukanlah nilai nominalnya, melainkan perhatian pribadi Anda yang terwakili melalui hadiah itu.
* Meluangkan waktu bersama dengan mereka. Bagi orang-orang yang kesepian atau tengah patah semangat, waktu khusus yang Anda berikan, entah sekadar untuk bercakap-cakap atau berjalan-jalan, jauh lebih bermakna daripada surat atau hadiah.
* Memberitahukan bahwa Anda berdoa bagi mereka. Paulus biasa mengawali suratnya dengan menyatakan betapa ia bersyukur kepada Allah atas orang-orang percaya yang menerima suratnya.
Selamat menjalani "terapi ucapan syukur" ini! ***
Kamis, 18 Desember 2003
Saya bersyukur atas keadaan saya…
[Orange Scale] - Beberapa hari terakhir ini, aku merasa bersyukur banget. Nggak tau kenapa. Bersyukur saja. Atas semua kekurangan, kekurangan diri, dan mungkin kekurangan materi yang mungkin kalau kekurangan itu tidak ada pada diriku, mungkin aku tidak bisa menjadi seperti sekarang ini.
Saya tidak kaya, uang jajan, uang untuk kebutuhan lainnya, saya harus mencari sendiri. Bukan tentang orang tua yang tidak mau memberi. Mereka akan memberi, tapi kadang, mereka memberi terlalu banyak. Hanya saja.. saya tidak bisa meminta dan meminta terus. Itu saja…
Yah, untunglah.. sudah lebih dari 4 tahun tidak terasa. Semua bisa tercukupi sendiri. (Saya tau Dia pasti memberikan jalan! Saya tahu itu!)
Aku juga tidak menyalahkan, jikalau saya terlahir bukan sebagai anak orang kaya, yang punya rumah mewah, yang punya mobil, yang punya kekayaan banyak, sehingga semua yang menjadi kebutuhan materi dapat tercukupi dengan begitu mudahnya. Mungkin dengan keadaan inilah… saya dituntut untuk lebih. Lebih kreatif, lebih bisa menyikapi keadaan.
Saya masih ingat banget, ketika saya dulu, harus mengerjakan beberap tugas kuliah dan beberapa aktifitas lain, dan saya merasa sangat ‘kurang’. Ketika harus membaca buku, buku yang harus saya baca harganya 200 ribu lebih. Ah!
Ketika saya harus mengerjakan tugas, belajar main-main bikin web, saya tidak punya komputer pribadi. Dan sampai sekarangpun, saya tidak/belum punya komputer sendiri. :) Tapi, semua pasti ada caranya, semua ada jalannya. Saya percaya itu!
Dan masih banyak ketika dan ketika yang lain…
Menjadi orang yang kurang, bukan suatu pilihan, dan mungkin tidak akan ada orang yang mau seperti itu. Tetapi, menjadi orang yang berusaha tetap maju dengan segala kekurangan, mungkin itu yang terbaik. Paling tidak, kehadiran saya didunia ini, bisa untuk memberi warna bagi diri saya sendiri, dan orang lain…
Kalau melihat anak-anak jalanan, masih kecil, mereka sudah bekerja, untuk mencari makan (mungkin ini saja yang ada dalam pikiran mereka), jauh dari keinginan untuk bermain dan menikmati masa anak-anak seperti yang lain… sepertinya saya merasa lebih bersyukur. Paling tidak, saya lebih bisa menghargai keadaan ini. Paling tidak, ketika saya seumur mereka, saya masih duduk di bangku sekolah, memakai seragam, dan lain-lain.
Dan, begitu banyak hal lain yang membuat saya bersyukur… atas semua kekurangan dan kelebihan. Mungkin Dia dulu menampar saya, dan berbicara kepada saya… Dan mungkin saat ini Dia sedang menyiapkan catatan untuk saya baca…
Saya bersyukur…