Jumat, 24 Agustus 2007

Haruskah Orang Kristen Memberi Perpuluhan?

[Santified Imagination] - Dalam kotbah saya beberapa waktu lalu, saya mengajak jemaat memikirkan bersama dari Maleakhi 3:6-12 sebuah pertanyaan berikut: Apakah perpuluhan, memberikan 10% dari pendapatan kita, hari ini harus dilakukan oleh orang Kristen?

Jawabannya yang pasti bukan 'ya', tetapi bukan juga 'tidak'. Karena dikotomi ya dan tidak akan menjerumuskan kita kepada pemahaman yang malah salah kaprah terhadap konsep ini. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita minimal 3 hal berikut

(1) Persembahan perpuluhan menjadi salah satu ukuran ketaatan kita kepada Allah, bagian dari ibadah kita kepada Allah. Memberi perpuluhan adalah sebuah bentuk pengakuan bahwa Ia Allah yang berdaulat yang memelihara hidup kita yang dapat kita andalkan dan sandari. Berita Maleakhi 3:6-12 diberitakan untuk menegur umat Israel yang tidak taat kepada Allah, dalam area memberi perpuluhan (disamping area lain yang ada dalam pasal ke-1 sampai ke-3). Jika bagian ini dikotbahkan agar penerimaan kas gereja naik, kita salah mengerti tujuan utama bagian ini. Kegagalan memberi perpuluhan hanyalah sebuah studi kasus, sebuah contoh riil dari ketidaktaatan umat Israel. Dalam hal tersebut, mereka perlu bertobat.

(2) Memberi dengan standar mutlak 10% berpotensi membuat orang percaya sombong rohani dan legalistik seperti orang Farisi (Mat 23:23). Point Yesus saat menegur orang Farisi adalah bahwa jangan kita memakai perpuluhan sebagai tingkah lagu agama (alasan rohani) agar tidak usah memperhatikan orang lain, khususnya orang-orang yang Tuhan kirimkan kepada kita untuk kita perhatikan. Adalah salah jika kita berpikir bahwa 10% dari pendapatanku adalah milik Tuhan, sisanya 90% milik-ku untuk aku pakai sekehendak hatiku. Padahal seluruhnya 100% adalah milik Allah yang ia titipkan pada kita. Jangan lupa kemampuan untuk kita bekerja dan mendapat gaji, itupun dari Allah.

(3) Perjanjian Baru (PB) tidak mengajarkan Perpuluhan, namun prinsip tentang memberi diajarkan dengan eksplisit dalam beberapa bagian oleh Rasul Paulus. Inti dari seluruh ajaran PB adalah bahwa:

(a) Motivasi kita memberi persembahan adalah untuk berkat rohani dari Allah, agar kita semakin berbuah memuliakanNya (2 Kor 9:8-15)

(b) Ukuran kita memberi persembahan adalah berkat materi dari Allah, agar kita semakin Allah memberkati kita dengan kekayaan materi, semakin besar kapasitas memberi dan menjadi saluran berkat.

Tabel berikut menjadi ringkasan dari seluruh aspek persembahan dalam Perjanjian Baru yang menggenapi ajaran perpuluhan dalam Perjanjian Lama. Saya menyebutnya sebagai Prinsip Persembahan 3S dan 3P

1. Sistematis
Memberi secara teratur, secara mingguan, dua-mingguan, bulanan, dll., tapi bukan secara dadakan
1 Kor 16:1

2. Sukarela
Memberi dengan sukarela, bukan karena rasa bersalah atau rasa terpaksa karena disuruh.
2 Kor 8:2-3; Fil 4:18

3. Sukacita
Memberi dengan hati yang bersukacita karena kasih kepada Allah
2 Kor 9:7

4. Pelayanan
Memberi untuk dapat menjadi saluran berkat Allah, mengasihi orang lain yang membutuhkan
2 Kor 8:9; 9:6

5. Proporsional
Memberi sesuai dengan berkat materi yang Allah tambahkan dalam hidup Anda.
1 Kor 16:2; 2 Kor 8:2-3

6. Pengorbanan
Memberi dengan perngorbanan, bukan ala kadarnya, agar lebih berani bergantung pada Allah, bukan uang.
2 Kor 8:2-3; Fil 4:17-18

Memberi persembahan adalah bagian dari disiplin rohani kita. Mari kita taat menjalankan Prinsip 3S-3P ini. Dan setiap kali kita memberi persembahan kepada Tuhan, kita mengingat dalam doa kita:

"Ya Tuhan, uang ini aku persembahkan bukan sebagai upeti untuk mendapat kasih sayangMu, bukan untuk menyogokMu untuk lebih sayang padaku, bukan untuk menutupi rasa bersalahku akibat perbuatan dosa yang aku lakukan, bukan untuk menciptakan 'good feeling' karena aku telah berjasa bagi gerejaMu, bukan untuk jaga image agar lebih kelihatan rohani, dan bukan sekedar rutinitas agama yang kosong. Uang ini aku persembahkan sebagai pernyataan imanku bahwa Engkaulah Allah yang berdaulat yang telah, sedang, dan akan terus menopang hidupku, bahwa hidupku tidak bergantung pada benda mati ini tetapi hanya padaMu. Biarlah melalui persembahanku, hidupku menyatakan dihadapanMu bahwa aku tidak menyembah berhala Mamon, tetapi menyembah Engkau Allah yang hidup."

Selasa, 13 Maret 2007

Kapan Harus Bersyukur?

[Sudut Pandang] - Bersyukur biasanya kita kaitkan dengan hal-hal yang positif, menyenangkan atau mengembirakan. Itulah ajaran umum yang sering kita dengar sejak kanak-kanak, kita amalkan, dan kita ajarkan kembali.

Bersyukur, ketika naik kelas. Bersyukur, karena mendapat makanan. Bersyukur, karena bisa jalan-jalan. Bersyukur, karena baju baru, mainan baru. Bersyukur, karena mempunyai teman yang baik

Ketika usia beranjak dewasa pola bersyukurpun tidak berubah. Bersyukur, karena naik pangkat atau dapat promosi. Bersyukur, karena makan enak. Bersyukur, karena bisa libur ke luar negeri. Bersyukur, karena rumah baru dan mobil baru.

Bersyukur macam itu biasa. Yang tidak biasa adalah bersyukur untuk semua hal. Juga untuk hal yang tampaknya negatif atau tidak menyenangkan. Karena kegagalan, karena makanan yang tidak enak, karena harus bekerja, karena harapan yang tidak terwujud, karena dihianati, karena disepelekan, karena…apapun juga. Senantiasa bersyukur. Bersyukur karena hal yang sudah terjadi itu biasa. Bersyukur karena hal yang belum terjadi itu luar biasa.

Awali pagi Anda dengan mensyukuri hari yang akan Anda lewati, pekerjaan yang akan Anda lakukan. Presentasi yang harus Anda siapkan. Perjumpaan dengan orang-orang. Percaya deh. Ketika Anda mengubah pola Anda dalam bersyukur. Hidup Anda sudah dan sedang berubah. Buktikan.

Rabu, 04 Oktober 2006

Memberi dari Kekurangan

[Cerita Kristen] - Salah satu hal yang membuat beberapa orang tidak sejahtera saat mengikuti kebaktian mingguan adalah permintaan persembahan tambahan. Persembahan tambahan bisa dilakukan untuk misi, diakonia, pengobatan, natal, pembangunan gereja atau apa saja. Tidak sejahtera karena harus memberi tanpa direncanakan dan akan semakin berat bila pengeluaran tambahan dilakukan akhir bulan.

Bagi beberapa orang yang berkecukupanpun bisa tidak sejahtera saat memberi, terlebih lagi bagi yang berkehidupan sederhana dan dibawahnya. Bahkan ada anggapan permintaan persembahan tambahan sebagai sarana mengambil keuntungan bagi gereja meskipun pada dasarnya keengganan memberi persembahanlah yang menjadi alasan utama. Tuhan tidak pernah memaksa seseorang untuk memberi persembahan ini, persembahan dilakukan secara sukarela dan bila tidak memberi juga tidak menjadi masalah. Tuhan tahu setiap orang pernah memberi persembahan meskipun tidak selalu. Tuhan juga tahu faktor keuangan yang membuat seseorang tidak memberi. Jadi bila tidak dapat memberi kenapa harus marah atau menyalahkan gereja atau pengurus atau Tuhan!

Tuhan melihat hati saat seseorang memberi persembahan dan jumlah merupakan masalah berikutnya. Jangan sampai tidak memberi persembahan tambahan dijadikan alasan tidak mengikuti kebaktian mingguan. Allah mengharapkan pujian dari hati kita terdalam kepadaNya serta kerinduan hati untuk mendengar firmanNya setiap minggu lebih dari memberikan persembahan tambahan.

Tahukah saudara ada seorang yang belajar memberi persembahan ini dengan setia dan dikemudian hari ia mendapat julukan “si Murah Hati “. Bila saudara ingin belajar menjadi orang yang murah hati, belajarlah dari Erik.


Erik diberi cap orang yang paling murah hati . Kehidupannya sederhana tetapi Erik selalu memberi bantuan bila ada sesiapa mengalami kemalangan. Dia juga termasuk salah satu dari jemaat yang selalu memberi persembahan tambahan di gereja. Banyak yang menganggap Erik seorang yang sangat berkecukupan meskipun tidak demikian kenyatannya.

Semua orang sepakat, saat ada sumbangan baik untuk gereja, orang sakit, kematian atau kecelakaan apa saja, ia pasti memberi jumlah yang bagi kebanyakan orang didaerahnya cukup banyak. Teman-temannya pernah melihatnya memberi sumbangan kebakaran yang diminta secara spontan saat ia naik kenderaan umum. Cukup banyak dalam arti bisa untuk makan dua atau tiga kali dalam satu hari dan selalu lebih besar dari yang diberikan teman-temannya.

Raut wajah tidak menunjukkan kekesalan atau rasa marah saat memberi. Rautnya wajar-wajar saja ketika mengeluarkan dompet dan memberikan uang sumbangan. Semuanya dilakukan secara alami tanpa paksaan. Inilah alasan mengapa ia diberi julukan banyak duit , murah hati dan sekaligus membuat teman-temannya terheran-heran terhadap tindakannya. Nama Erik tidak pernah tertulis sebagai pemberi sumbangan kecuali teman-temannya membuat daftar nama sumbangan kolektif.

Pernah teman-temannya mentertawakannya. Ada tiga kasus kematian orang tua karyawan dan semua karyawan diminta menyumbang seribu rupiah perkepala. Pengumpul dana meminta sumbangan kepadanya, ia mengeluarkan tiga lembar uang sepuluh ribuan dan berkata,” Ini uang sumbangan dukacita untuk teman-teman kita ”, secara spontan disertai wajah polos. Semua rekan-rekannya terkejut dan sebagian lagi tertawa. Erik bingung dan berkata , “ Ada yang salah?” . Temannya menjelaskan hanya dipungut tiga ribu rupiah saja dan Erik kembali berkata dengan polos ,”Kalau sepuluh ribu rupiah saya beri ngak salah, kan?” . Kembali temannya tersenyum dan menerima uang itu.

Satu hari seorang temannya melihat ia memberi sumbangan kemudian menyindirnya dengan mengatakan,”Kamu bisa menyumbang karena banyak uang sedangkan kami makan saja tidak cukup!”. Erik tertegun sejenak dan kemudian berkata,” Untuk memberi sumbangan yang diperlukan hati yang rela memberi”.

Kemudian Erik bercerita awal ia belajar memberi. Enam tahun lalu Erik selalu marah ketika kebaktian mingguan sedang berlangsung. Perasaan was-was muncul dikarenakan permintaan persembahan tambahan . Ia menyalahkan Tuhan dan pendeta setiap kali persembahan dijalankan. Keuangannya benar-benar minim. Dengan gaji UMR masih mampu membayar persepuluhan dan persembahan meskipun harus berhemat. Tetapi untuk persembahan tambahan ia tidak mempunyai uang lagi.

Setiap minggu kemarahan memuncak. “Akan adakah persembahan tambahan lagi?”, jerit batinnya selama kebaktian. Emosi telah mengalahkan kerinduan hati untuk memuji dan mendengar firman-Nya. Emosi semakin memuncak dari hari ke hari dan ia harus mengatasi masalah ini. Akhirnya Erik memutuskan untuk menyisihkan uang dua ribu rupiah sampai dua ribu limaratus rupiah perbulan. Erik akan memberi sumbangan lima ratus rupiah perminggu bila ada persembahan tambahan.

Lima ratus merupakan jumlah yang sangat kecil. Bila digabung uang persembahan mingguan ditambah persembahan tambahan mingguan, jumlahnya masih tetap kecil bila dibandingkan dengan minuman dan kue gratis yang diberikan gereja pada semua jemaat termasuk Erik saat ramah tamah selesai ibadah gereja. Tetapi Erik telah bertekad memberinya pada Tuhan. Demikianlah ia memberi persembahan tambahan ke gereja bila diminta . Ada perasaan malu mengingat jumlah uang masih lebih kecil dari pada makanan dan minuman yang diberikan gereja baginya tetapi disaat bersamaan kemarahan tidak ada lagi saat kebaktian mingguan. Ia tidak marah kepada gereja, pendeta terlebih kepada Tuhan dan mulai menikmati kebaktian mingguan.

Persembahan tambahan tidak diminta setiap minggu , ada sisa uang persembahan tambahan setiap akhir bulan. Jumlahnya semakin bertambah di setiap akhir bulan berikutnya dikarenakan Erik menambah sebesar dua ribu sampau dua ribu lima ratus rupiah setiap awal bulan. Erik bingung mau dikemanakan uang ini.

Sisa uang akan dipakai untuk belanja demikianlah rencananya. Tetapi Erik menyadari suatu hari nanti ia tidak mau memberi persembahan tambahan lagi atau dengan kata lain mulai berharap agar permintaan sumbangan tambahan digereja dikurangi atau tidak ada lagi. Sejujurnya Ia bukan orang yang jujur menghadapi masalah ini. Orang lain dapat dengan jujur membelanjakan sisa uang ini dan tetap tidak keberatan memberi persembahan tambahan digereja. Tetapi Erik adalah Erik dan bukan orang lain . Melalui pergumulan Erik memutuskan uang sisa akan diberikan bagi yang memerlukan. Ia mulai memberi sumbangan kepada orang yang meninggal, orang yang sakit atau siapa saja yang membutuhkan. Itulah awal Erik memberi sumbangan kepada siapa yang memerlukannya. Semakin hari pekerjaan Erik semakin baik dan persembahan tambahan yang di sisihkan setiap bulan semakin besar, juga uang yang diberikan untuk persembahan dan menolong orang semakin besar.

Erik orang yang murah hati dan mau memberi disaat hidupnya masih kekurangan . Ia selalu mengatakan,”Yang terutama harus dilakukan saat memberi adalah hati yang tulus”. Itulah Erik.

Kamis, 15 Januari 2004

Berterima Kasih kepada Sesama

[Den Mas Marto] - Sikap hati yang bersyukur kepada Tuhan tentunya akan terpancar dalam hubungan dengan sesama. Kita dapat belajar untuk mengembangkan sikap yang tahu berterima kasih ini. Berikut ini sejumlah cara praktis untuk mengungkapkan rasa syukur.

* Menyatakan secara langsung. Ucapkan terima kasih atas kebaikan yang orang lakukan bagi Anda. Sedapat mungkin, sebutkan secara spesifik "nilai" perbuatan tersebut, misalnya: "Terima kasih telah mengingatkan aku untuk menelepon si A. Kau benar-benar penuh perhatian."
* Menulis surat. Tulislah surat atau kartu ucapan terima kasih. Isinya tidak perlu bertele-tele, namun langsung pada sasaran. Kirimkan sesegera mungkin.
* Menceritakannya pada orang lain. Daripada menggosipkan keburukan orang, ceritakanlah perbuatan baik yang telah dilakukan seseorang pada Anda. Ungkapkan berkat yang Anda alami karena perbuatan tersebut.
* Memberikan hadiah. Pilihlah hadiah yang patut bagi orang tersebut. Pertimbangan utamanya bukanlah nilai nominalnya, melainkan perhatian pribadi Anda yang terwakili melalui hadiah itu.
* Meluangkan waktu bersama dengan mereka. Bagi orang-orang yang kesepian atau tengah patah semangat, waktu khusus yang Anda berikan, entah sekadar untuk bercakap-cakap atau berjalan-jalan, jauh lebih bermakna daripada surat atau hadiah.
* Memberitahukan bahwa Anda berdoa bagi mereka. Paulus biasa mengawali suratnya dengan menyatakan betapa ia bersyukur kepada Allah atas orang-orang percaya yang menerima suratnya.

Selamat menjalani "terapi ucapan syukur" ini! ***

Kamis, 18 Desember 2003

Saya bersyukur atas keadaan saya…

[Orange Scale] - Beberapa hari terakhir ini, aku merasa bersyukur banget. Nggak tau kenapa. Bersyukur saja. Atas semua kekurangan, kekurangan diri, dan mungkin kekurangan materi yang mungkin kalau kekurangan itu tidak ada pada diriku, mungkin aku tidak bisa menjadi seperti sekarang ini.
Saya tidak kaya, uang jajan, uang untuk kebutuhan lainnya, saya harus mencari sendiri. Bukan tentang orang tua yang tidak mau memberi. Mereka akan memberi, tapi kadang, mereka memberi terlalu banyak. Hanya saja.. saya tidak bisa meminta dan meminta terus. Itu saja…


Yah, untunglah.. sudah lebih dari 4 tahun tidak terasa. Semua bisa tercukupi sendiri. (Saya tau Dia pasti memberikan jalan! Saya tahu itu!)
Aku juga tidak menyalahkan, jikalau saya terlahir bukan sebagai anak orang kaya, yang punya rumah mewah, yang punya mobil, yang punya kekayaan banyak, sehingga semua yang menjadi kebutuhan materi dapat tercukupi dengan begitu mudahnya. Mungkin dengan keadaan inilah… saya dituntut untuk lebih. Lebih kreatif, lebih bisa menyikapi keadaan.

Saya masih ingat banget, ketika saya dulu, harus mengerjakan beberap tugas kuliah dan beberapa aktifitas lain, dan saya merasa sangat ‘kurang’. Ketika harus membaca buku, buku yang harus saya baca harganya 200 ribu lebih. Ah!
Ketika saya harus mengerjakan tugas, belajar main-main bikin web, saya tidak punya komputer pribadi. Dan sampai sekarangpun, saya tidak/belum punya komputer sendiri. :) Tapi, semua pasti ada caranya, semua ada jalannya. Saya percaya itu!
Dan masih banyak ketika dan ketika yang lain…

Menjadi orang yang kurang, bukan suatu pilihan, dan mungkin tidak akan ada orang yang mau seperti itu. Tetapi, menjadi orang yang berusaha tetap maju dengan segala kekurangan, mungkin itu yang terbaik. Paling tidak, kehadiran saya didunia ini, bisa untuk memberi warna bagi diri saya sendiri, dan orang lain…

Kalau melihat anak-anak jalanan, masih kecil, mereka sudah bekerja, untuk mencari makan (mungkin ini saja yang ada dalam pikiran mereka), jauh dari keinginan untuk bermain dan menikmati masa anak-anak seperti yang lain… sepertinya saya merasa lebih bersyukur. Paling tidak, saya lebih bisa menghargai keadaan ini. Paling tidak, ketika saya seumur mereka, saya masih duduk di bangku sekolah, memakai seragam, dan lain-lain.

Dan, begitu banyak hal lain yang membuat saya bersyukur… atas semua kekurangan dan kelebihan. Mungkin Dia dulu menampar saya, dan berbicara kepada saya… Dan mungkin saat ini Dia sedang menyiapkan catatan untuk saya baca…

Saya bersyukur…