Kamis, 15 Januari 2004
Berterima Kasih kepada Sesama
* Menyatakan secara langsung. Ucapkan terima kasih atas kebaikan yang orang lakukan bagi Anda. Sedapat mungkin, sebutkan secara spesifik "nilai" perbuatan tersebut, misalnya: "Terima kasih telah mengingatkan aku untuk menelepon si A. Kau benar-benar penuh perhatian."
* Menulis surat. Tulislah surat atau kartu ucapan terima kasih. Isinya tidak perlu bertele-tele, namun langsung pada sasaran. Kirimkan sesegera mungkin.
* Menceritakannya pada orang lain. Daripada menggosipkan keburukan orang, ceritakanlah perbuatan baik yang telah dilakukan seseorang pada Anda. Ungkapkan berkat yang Anda alami karena perbuatan tersebut.
* Memberikan hadiah. Pilihlah hadiah yang patut bagi orang tersebut. Pertimbangan utamanya bukanlah nilai nominalnya, melainkan perhatian pribadi Anda yang terwakili melalui hadiah itu.
* Meluangkan waktu bersama dengan mereka. Bagi orang-orang yang kesepian atau tengah patah semangat, waktu khusus yang Anda berikan, entah sekadar untuk bercakap-cakap atau berjalan-jalan, jauh lebih bermakna daripada surat atau hadiah.
* Memberitahukan bahwa Anda berdoa bagi mereka. Paulus biasa mengawali suratnya dengan menyatakan betapa ia bersyukur kepada Allah atas orang-orang percaya yang menerima suratnya.
Selamat menjalani "terapi ucapan syukur" ini! ***
Kamis, 18 Desember 2003
Saya bersyukur atas keadaan saya…
[Orange Scale] - Beberapa hari terakhir ini, aku merasa bersyukur banget. Nggak tau kenapa. Bersyukur saja. Atas semua kekurangan, kekurangan diri, dan mungkin kekurangan materi yang mungkin kalau kekurangan itu tidak ada pada diriku, mungkin aku tidak bisa menjadi seperti sekarang ini.
Saya tidak kaya, uang jajan, uang untuk kebutuhan lainnya, saya harus mencari sendiri. Bukan tentang orang tua yang tidak mau memberi. Mereka akan memberi, tapi kadang, mereka memberi terlalu banyak. Hanya saja.. saya tidak bisa meminta dan meminta terus. Itu saja…
Yah, untunglah.. sudah lebih dari 4 tahun tidak terasa. Semua bisa tercukupi sendiri. (Saya tau Dia pasti memberikan jalan! Saya tahu itu!)
Aku juga tidak menyalahkan, jikalau saya terlahir bukan sebagai anak orang kaya, yang punya rumah mewah, yang punya mobil, yang punya kekayaan banyak, sehingga semua yang menjadi kebutuhan materi dapat tercukupi dengan begitu mudahnya. Mungkin dengan keadaan inilah… saya dituntut untuk lebih. Lebih kreatif, lebih bisa menyikapi keadaan.
Saya masih ingat banget, ketika saya dulu, harus mengerjakan beberap tugas kuliah dan beberapa aktifitas lain, dan saya merasa sangat ‘kurang’. Ketika harus membaca buku, buku yang harus saya baca harganya 200 ribu lebih. Ah!
Ketika saya harus mengerjakan tugas, belajar main-main bikin web, saya tidak punya komputer pribadi. Dan sampai sekarangpun, saya tidak/belum punya komputer sendiri. :) Tapi, semua pasti ada caranya, semua ada jalannya. Saya percaya itu!
Dan masih banyak ketika dan ketika yang lain…
Menjadi orang yang kurang, bukan suatu pilihan, dan mungkin tidak akan ada orang yang mau seperti itu. Tetapi, menjadi orang yang berusaha tetap maju dengan segala kekurangan, mungkin itu yang terbaik. Paling tidak, kehadiran saya didunia ini, bisa untuk memberi warna bagi diri saya sendiri, dan orang lain…
Kalau melihat anak-anak jalanan, masih kecil, mereka sudah bekerja, untuk mencari makan (mungkin ini saja yang ada dalam pikiran mereka), jauh dari keinginan untuk bermain dan menikmati masa anak-anak seperti yang lain… sepertinya saya merasa lebih bersyukur. Paling tidak, saya lebih bisa menghargai keadaan ini. Paling tidak, ketika saya seumur mereka, saya masih duduk di bangku sekolah, memakai seragam, dan lain-lain.
Dan, begitu banyak hal lain yang membuat saya bersyukur… atas semua kekurangan dan kelebihan. Mungkin Dia dulu menampar saya, dan berbicara kepada saya… Dan mungkin saat ini Dia sedang menyiapkan catatan untuk saya baca…
Saya bersyukur…